Akhir semester dalam perkuliahan
saya merasa amat sangat kurang produktif. Dalam seminggu hanya ada sehari
jadwal kuliah saya. Sebagai makhluk yang menurut saya sendiri saya ini bukanlah
orang yang suka berdiam diri kecuali tidur (ga juga sih) jadwal seperti itu
membuat saya sangat jenuh dengan hidup sebagai mahasiswa semester akhir. Saya
juga termasuk malas dalam mengerjakan skripsi. Bisa dibilang harus ada sesuatu
yang harus “mengejar” dahulu supaya rajin. Sebenarnya sudah sejak lama saya
berpikir tentang bagaimana cara yang cukup tepat untuk mengisi waktu kosong
saya yang berlimpah ini. Pernah terpikir untuk mencoba untuk belajar membuat
video video bagus tapi bukan vlog atau semacamnya, lebih ke film atau video
musik tapi pada akhirnya saya sadar kamera itu mahal ya ujung-ujungnya ga jadi. Saya pun melihat teman saya dia
sering menshare link blognya, ternyata dia sekarang suka menulis. Sedang
asik-asiknya buka twitter (iya saya masih main twitter) ada chat dari makhluk
tersebut yang notabenenya teman dekat karib banget saya. Dia jauh, jauh
kuliahnya, di luar kota, tapi kami masih sering catch up lewat sosmed. Teman
saya itu dengan ujug-ujug chat saya,“nge apa kabar nge” disitu saya berpikir ini makhluk tidak
biasanya begini, seperti ada “something”. Saya balas aja dengan asal “lu ngapa
bego?, basiannya jelek ya?” dengan maksud berguyon. Usut punya usut ternyata
dia sedang kangen sama masa lalu. Orang ini juga yang mengilhami saya untuk
memulai menulis karena dia juga memiliki blog yg isinya celotehan dia dan saya
pun ingat cita-cita dia yang pada saat SMA dia bilang, dia ingin menjadi
jurnalis jadi wajar lah dia sekarang menulis. Alasan
saya menulis juga mungkin saya merasa saya punya pikiran pikiran absurd nan
aneh yang cukup sayang apabila terlupakan. Saya sadar manusia mempunyai
kemampuan mengingat yang terbatas jadi saya putuskan untuk memulai perjalanan
menulis saya.
Musisi dan Politisi. Saya bukan musisi apalagi politisi. Saya hanya berpikir kenapa para musisi senior yang dulunya berkoar melawan pemerintah tidak mau masuk politik. Menurut otak sengklek saya mereka sudah punya cukup modal untuk kesana. Mereka mengkritik dibawah rezim kejam, mereka menyuarakan keresahan masyarakat lewat karyanya, mereka berani melawan disaat banyak pihak yang takut untuk melawan. Yang menyedihkan adalah para musisi yang lebih banyak bicara cinta tiba tiba di hari tuanya masuk politik. Mental mereka masih sama, apa yang dilakukan untuk HIBURAN, mungkin mereka lupa kalau panggung “politik” bukan panggung yang dibelakangnya ada sound system, ada operator dan EO yang menjaga keberlangsungan acara, padahal panggung politik adalah panggung dimana sound systemnya adalah sifat, perbuatan, perilaku yang jujur, operator dan EOnya adalah para timses timses mereka. Walaupun kedua panggung tersebut itu memiliki persamaan yaitu memuaskan para audience yang hadir pada musi...
Comments
Post a Comment